Senin, 04 September 2023

SISI BELAKANG PANGGUNG PAGELARAN BAGIAN 1




Bram Palgunadi


















Kehidupan di depan panggung yang semarak, penuh dengan gebyar cahaya lampu panggung pagelaran, penuh dengan para tamu, penuh dengan berbagai expresi gembira, serta penuh dengan cerita; biasanya sudah banyak direkam dalam bentuk foto, ulasan, video, atau wawancara 'live'. Ini adalah bagian yang biasanya menjadi perhatian utama dari suatu pagelaran. Pada sisi ini, nyaris semua pemburu berita, para wartawan, juru foto, juru kamera, pewawancara, dan para pemburu berita; berebut obyek buruannya. Bagian ini, lazimnya juga nyaris penuh dengan gelak tawa gembira, pelukan hangat di antara pada tamu yang saling kenal dan saling menjadi sahabat lama.

Pagelaran apapun, memang sering menjadi ajang pertemuan meriah, antar para sahabat, kerabat, teman sejawat, dan anggota paguyuban. Biasanya juga ada sejumlah pejabat pemerintah, pengusaha, manajer, direktur, eksekutif, atau para pemangku kebijakan; yang datang bertandang. Sering juga menjadi ajang bagi para calon anggota legislatif, anggota partai, atau mereka yang hendak maju sebagai calon kepala daerah, calon wali-kota, atau calon gubernur; untuk berburu pendukung bagi dirinya. Jadi, bisa-bisa seribu kepentingan dan keinginan, bercampur-aduk menjadi satu kesatuan, pada pagaleran besar itu. Semuanya, menyatu pada bagian depan panggung pagelaran, yang penuh dengan gemerlap cahaya. Sesekali, kita bahkan juga bisa melihat adanya kepentingan politik, di balik segala gemerlap panggung itu. 

Ada banyak cara, yang bisa digunakan orang, untuk membungkus kepentingan dirinya, sehingga orang lain tak merasakan secara langsung kehadian berbagai kepentingan khas itu. Tetapi, kadang-kala penonjolan soal kepentingan khas ini, juga bisa dilakukan secara terang-terangan. Misalnya, dengan cara memasang spanduk, baliho, atau poster besar; lengkap dengan foto diri, partai pendukung, sponsor, serta seribu janji manis, jika ia nanti terpilih. Sudah tentu, untuk urusan seperti ini, banyak juga yang tak keberatan, selama dana untuk pagelaran itu, juga didukung penuh oleh orang-orang yang punya kepentingan politik ini. Dan, mengucurlah sejumlah besar dana, beserta senyum dan harapan, untuk memenangkan pemilihan yang akan dilangsungkan. Itu merupakan hal yang lumrah saja. Dan biasanya, orang juga tak memperdebatkannya. Mereka, menyebut para 'donatur' seperti ini, sebagai penyumbang dana yang potensial, untuk keperluan pengembangan seni dan budaya daerah. Dan tentu saja, mereka itu nantinya akan mendapat porsi waktu yang cukup, untuk menyampaikan segala sesuatunya kepada khalayak ramai. Biasanya, pidato yang disampaikan, akan dipenuh dengan sorak-sorai gembira, serta tepuk tangan yang sangat meriah.

Tetapi, di belakang panggung, biasanya tak ada gemerlap cahaya lampu seperti di depan panggung. Bahkan, sebagian besar sisi belakang panggung, sering-kali kita temukan suasana suram, cenderung sepi, dan semua orang di tempat itu, biasanya terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Sibuk mempersiapkan diri. Sibuk mempersiapkan temannya. Sibuk mempersiapkan logistik. Sibuk menghitung berbagai kelengkapan panggung yang akan digunakan. Juga sering sibuk menelpon, menanyakan sesuatu hal, yang dirasakan tak pas, belum tersedia, belum dicukupi, atau tadinya diketahui ada, tetapi sekarang ternyata belum ada. Kesibukan di belakang panggung itu, sesekali juga diterpa dengan teriakan yang bernada setengah panik, manakala waktu suatu sedemikian mepet, tetapi ada yang masih tertinggal.

Suasana di belakang panggung ini, sebenarnya merupakan bagian dari seluruh pagelaran besar, yang cenderung dilupakan. Lepas dari perhatian. Orang biasanya hanya tertarik dengan berbagai tampilan yang gemerlap, di dapan panggung. Dan, umumnya sama sekali tak tertarik untuk mengabadikan bagian belakang panggung yang cenderung suram suasananya itu. Padahal, di belakang panggung inilah sebenarnya, segala drama kehidupan berlangsung. Paling tidak, begitulah yang saya lihat selama ini. Pada bagian ini, sering-kali tampak emosi yang meledak-ledak nyaris tak terkendali, jika ada sesuatu yang dirasa tak pas terjadi. Memang, tak pernah sampai terjadi perkelahian misalnya. Tetapi, sering-kali juga sampai pada percekcokan yang bisa berlangsung sangat sengit. Mereka yang terlibat, kalau saya perhatikan, umumnya 'nggugu karepe dhewe' (mengikuti kehendak hatinya sendiri), tak begitu memperdulikan pendapat orang lain.

Di belakang panggung, biasanya juga terjadi berbagai hal yang dramatis. Fenomena ini nyaris terjadi pada semua panggung pagelaran, tentu saja dalam bentuk yang berbeda. Dan, fenomena ini tak pernah muncul di depan panggung pagelaran yang sesungguhnya. Drama yang menyentuh, biasanya tak akan pernah ditampilkan di depan panggung, karena memang bukan merupakan bagian dari pagelaran itu. Ini merupakan sisi dalam, yang biasanya tersembunyi. Kita, bahkan bisa bertemu dengan seseorang yang sedang bercengkerama. Atau, seseorang yang sedang melamun. Atau, seseorang yang tiba-tiba saja menangis sesenggukan. Atau, beberapa orang yang sedang makan nasi bungkus. Atau, beberapa orang yang merokok kretek, sambil bercerita kepada sesama sahabatnya. Atau, beberapa anak kecil yang sedang dirias, untuk ikut menari di depan panggung. Atau, sejumlah wanita, yang sibuk merias diri sendiri. Atau, sibuk merias temannya. Atau, beberapa orang yang saling menolong, memakaikan pakaian adat, yang akan digunakan di atas panggung pagelaran. Atau, seseorang yang merajuk, karena ia merasa riasannya tidak pas. Atau, kita bisa mendengar seseorang yang berteriak, mengingatkan teman-temannya, soal waktu naik panggung, dan giliran naik panggung. Atau, seseorang bertanya apakah temannya sudah makan atau belum. Pokoknya, seribua kejadian bisa terjadi di sisi belakang panggung pagelaran itu. Tak semuanya bernuansa gembira. Tapi memang itulah yang terjadi. Bisa gembira suasananya, bisa sendu, bisa menyedihkan, dan bisa pula sangat berisik.

Di antara berbagai suasana yang beragam itulah, saya bisanya membuat foto berbagai kegiatan mereka. Menyenangkan, karena biasanya situasi dan kondisinya, mewakili situasi dan kondisi yang bersifat asli, tidak dibuat-buat, tidak direka-yasa, dan tidak pula didramatisasi. Sudah puluhan tahun saya melakukannya. Dan selama itu, saya baru sekali bertemu pemotret lain yang membuat foto sisi belakang panggung. Itupun hanya selintas. Mereka kelihatannya jauh lebih tertarik membuat foto dan video pada sisi depan panggung. Persahabatan saya dengan kelompok kesenian yang semua anggotanya berasal dari Banyu-Mas, membawa saya pada sejumlah kemudahan. Misalnya, mereka tahu, kalau saya senang membuat foto sisi belakang panggung. Maka, biasanya beberapa hari sebelum pagelaran, saya diberi-tahu, dan diberi informasi lengkap. Itu yang menyenangkan. Kelompok kesenian yang anggotanya berasal dari wilayah Banyu-Mas itu, biasanya juga menyertakan berbagai makanan khas Banyu-Mas, yang saya juga suka. Misalnya, tempe 'mendhoan' atau 'pecel khas Maos-Cilacap', yang memakai rebusan Bunga Kecombrang; dimakan dengan saus kacang yang pedas....

Para anggota komunitas kesenian Banyu-Mas ini, nyaris semuanya adalah kerabat keluarga. Karenanya, mereka bisa kompak selama bertahun-tahun. Bisa jadi, ini merupakan kelompok kesenian dan kebudayaan yang boleh dibilang paling awet, paling kompak, dan paling erat hubungan antar mereka. Semuanya, datang dari beragam profesi yang berbeda. Tidak ada perbedaan derajat, tingkat, golongan, atau agama. Semuanya menyatu saja dalam kelompok seni ini. Dan itu pula yang menyebabkan, mereka jadi sering melakukan pagelaran bersama. Kadang-kala mereka melakukan pagelaran wayang kulit purwa, tetapi juga beberapa kali melakukan pagelaran kethoprak. Pada kumpulan foto ini, mereka melakukan pagelaran kethoprak, di Gedung Rumentang Siang, Jl. Baranang Siang, Kosambi, Bandung, pada bulan Agustus tahun 2016.
















































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SISI BELAKANG PANGGUNG PAGELARAN BAGIAN 1

Bram Palgunadi Kehidupan di depan panggung yang semarak, penuh dengan gebyar cahaya lampu panggung pagelaran, penuh dengan para tamu, penuh ...